| BRC Koboi BF: Utamakan kualitas trotolan murai batu daripada kuantitas produksi |
| 10:56:45 PM | redaksiomkicau |
|
Om Supriyono termasuk penangkar tangguh. Tahun 2010, dia membangun penangkaran burung kacer dan punglor kembang di Perumahan Tallon Permai, Kamal, Madura, dengan bendera BRC Koboi BF. Tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga pada tahun 2011 Om Supriyono beralih menangkar murai batu. Ternyata peralihan materi ternak tak berjalan mulus. Bahkan setahun beternak murai batu, Om Supriyono belum menuai hasil yang diinginkan. Kendala demi kendala selalu dihadapinya. "Sebenarnya pada tahun 2012, saya sudah bisa panen anakan dari satu pasang indukan. Tapi banyak kendala yang dihadapi, terutama ketika induk membuang anakan pada umur tiga hari," kenangnya. Berbekal kesabaran dan terus belajar, Om Supriyono akhirnya mampu mengatasi satu-persatu permasalahan dalam breeding murai batu. Berdasarkan pengamatan dan pengalamannya, induk murai batu ketika sedang mengasuh / merawat anaknya ternyata lebih suka memilih jangkrik daripada kroto. “Ketika porsi jangkrik diperbanyak, maka induk merasa lebih nyaman dan tidak lagi membuang anaknya. Tetapi hal ini tidak bisa disamaratakan, tergantung karakter dari setiap indukan, suasana kandang, dan lain-lain,” tuturnya. Merasa sudah dapat mengatasi sejumlah permasalahan dalam beternak murai batu, Om Supriyono memutuskan untuk membangun kandang-kandang baru, sekaligus menambah jumlah indukan menjadi 15 pasangan. Namun lagi-lagi berbagai kendala mengadang usaha penangkaran murai batu yang dikelolanya. Misalnya trotol siap jual tiba-tiba sakit dan [...] |
Posting Komentar